Kamis, 14 November 2013
Minggu, 03 November 2013
Yearbook-yearbook-an (?)
Halo selamat sore!
Saya baru muncul dari semi-hiatus perblogging-an (?).
Ditengah waktu rehat sejenak dari belajar (saya sedang UTS btw) iseng-isng mau posting foto-foto yang kalo saya bilang sih *ehem mirip yearbook-yearbook-an :3
So lets check this out guys!
(kanan ke kiri : Aura, Saya, dan Ria)
ini kalau nggak salah lagi nunggu temen selesai praktikum, terus ada kamera nganggur dan...
jadilah foto ini
*--"
Kamis, 10 Oktober 2013
(Dibuang Sayang) Senja di Borneo
“Bu,
kenapa langit senja selalu tampak indah?”
“Karena ini senja di Borneo.”
***
Hari ini, aku bangun lebih pagi.
Melawan dinginnya semilir angin yang merasuk dan bergegas menuju tambak ikan.
Aku telah berjanji padanya untuk pergi menjaga tambak bersama.
“Tius, apa hari ini giliranmu yang
menjaga tambak?” tanyaku saat mendapati Tius tengah duduk-duduk dipinggir
tambak.
“Iya, Bu…” jawabnya singkat.
Matius atau yang akrab dipanggil
Tius adalah anak dari orangtua asuhku selama di Kalimantan. Ya, aku sedang
menjalankan tugas sebagai asisten konsultan sebuah perusahaan yang bergerak
dibidang kehutanan. Dua bulan lalu, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di
Desa Labuangkalo, Tius adalah orang pertama yang membantuku untuk membawa
ransel dan barang bawaan lainnya.
Tius, bocah kecil dengan kulit
coklat tersengat sinar matahari ini, kini menatap kosong hamparan air tambak
didepannya. Tak biasanya ia seperti ini.
“Tius, kamu kenapa?” tanyaku
penasaran.
“Pak Guru Saidi pulang ke Jawa.
Tidak ada lagi guru disekolah kami, Bu.” ucapnya pelan.
“Pak Guru Saidi?”
“…” Tius hanya menatapku tanpa ucap.
(Dibuang Sayang) Membunuh Kawan
Membunuh Kawan
Membunuh kawan? Apa itu sesuatu yang
wajar? Tidak wajar bukan? Faktanya, aku telah berulang kali melakukannya.
Membunuh kawan kulakukan tidak secara ragawi, melainkan secara verbal. Lewat
kata-kata yang kutuangkan dalam tulisan.
Pekerjaan sebagai seorang jurnalis
membuatku harus melakukan tindakan yang bagi seorang kawan tak layak dilakukan
itu. Profesionalitas. Satu kata itu yang harus kuutamakan saat aku sedang
menyusun rencana untuk membunuh kawanku sendiri, Hendriawan Trilaksmono, seorang
mantan petinggi salah satu bank swasta. Sejak kudengar kasusnya tentang
penggelapan dana seorang nasabah dua tahun silam, aku terus memburu beritanya.
Sekali lagi aku menekankan,
profesionalitas. Profesionalitas tidak mengenal apakah ia dulu bekas teman
sebangkumu kala SMA atau tidak. Profesionalitas hanya mengenal berita yang aktual
dan disajikan secara obyektif. Kini profesiolitasku berteman dengan sebuah
tindakan membunuh kawan. Aku mengeksekusi kawan lamaku itu dengan sebuah
headline, “Lagi, Trilaksmono Menghisap Madu Nasabah” yang terbit diminggu lalu.
Beberapa hari setelah headline
tersebut terbit, kudengar sayup dari suara Televisi, “Pelaku penggelapan dana
nasabah, Hendriawan Trialaksmono, ditemukan bunuh diri di apartemennya pagi
tadi…”
Sedetik kemudian air mataku
mengalir.
Langganan:
Postingan (Atom)

